AI Mengisi Kekosongan
Semakin banyak orang curhat ke ChatGPT di jam 2 pagi. Bukan karena AI-nya canggih, tetapi karena tidak ada orang lain yang mau mendengarkan.
Artikel ini membahas tentang "kekosongan" (perasaan hampa), dan bagaimana AI mengisi kekosongan tersebut tanpa memberi solusi.
Kita Tidak Pernah Diajari Bicara Soal Perasaan
Banyak dari kita tumbuh di rumah di mana emosi (perasaan) merupakan topik yang tabu.
Bukan karena orang tua kita jahat, tetapi mereka mungkin terlalu sibuk mencari nafkah. Atau mereka sendiri tumbuh di budaya yang bilang "laki-laki nggak boleh nangis" dan "yang penting kuat." Alhasil, kita tidak punya tempat dan bahasa (atau kosakata) untuk mengungkapkan perasaan.
Psikolog menyebutnya validasi emosional: kebutuhan untuk didengar dan diakui bahwa apa yang kita rasakan itu wajar. Sebetulnya, validasi emosional ini merupakan salah satu kebutuhan dasar, sama seperti makan dan tidur, tetapi kita tidak bisa mendapatkannya di rumah.
Lalu AI datang.
AI tersedia 24 jam. Dia sabar dan tidak pernah bilang "lebay." Tidak pernah capek mendengarkan. Bagi seseorang yang seumur hidup tidak pernah merasa didengarkan, pengalaman berbicara dengan AI membuat mereka merasa nyaman. Rasanya seperti menemukan seseorang yang peduli dan mau mendengarkan.
Yang Jadi Masalah, AI akan Melakukan Apapun yang Kamu Minta
Kalau kamu bilang "rasanya tidak ada yang peduli sama aku," AI akan merespons dengan bilang bahwa perasaanmu valid dan benar. Ia akan selalu mengiyakan apapun yang kamu katakan.
AI tidak akan bertanya: "Apakah itu fakta, atau hanya perasaanmu saja?" Ia tidak akan bilang: "Kamu sudah cerita hal yang sama lima kali — kira-kira apa yang bikin kamu stuck di sini?"
Bandingkan dengan tenaga medis profesional seperti psikolog. Psikolog akan memvalidasi dan bertanya balik. Teman dekat yang peduli juga akan bertanyak balik, "kamu sudah coba lihat dari sisi lain belum?" AI tidak akan melakukan hal ini. AI hanya mengiyakan perasaanmu dan memberikan kenyamanan.
Kalau ini berlangsung terus, ada beberapa hal yang akan terjadi:
Ceritamu jadi semakin terasa nyata, walaupun belum tentu ceritamu benar. Kamu cerita ke AI, lalu AI merespon balik dan mengkonfirmasi ceritamu. Yang kamu dengar sebetulnya adalah cerita dari dirimu sendiri, dan dikonfirmasi/divalidasi oleh AI, sehingga seolah-olah terdengar dari orang lain (dan biasanya terdengar lebih pintar, sehingga kamu akan percaya). Lama-lama cerita itu terasa makin nyata, padahal tidak pernah ada yang mengujinya.
Kamu makin "alergi" dengan ketidaksetujuan. Di dunia nyata, ada banyak orang yang tidak sependapat dengan kamu. Kalau kamu sudah terbiasa dengan AI yang selalu setuju denganmu, hubunganmu dengan orang lain di dunia nyata akan terasa tidak menyenangkan.
Kamu merasa lega, dan berpikir kamu sembuh. Setelah curhat ke AI, kamu merasa lebih lega. Tapi rasa lega itu bukan perubahan ke arah yang lebih baik. Besok, masalah yang sama masih ada.
Siapa yang Paling Rentan Terdampak AI?
AI tidak punya opini. AI tidak punya keahlian untuk memberikan terapi profesional. Ia hanya mengikuti arah yang kamu tunjukkan.
Kalau kamu bilang "keluargaku tidak peduli," AI menganggap itu sebagai fakta. Ia tidak punya posisi untuk bilang "tunggu, apakah itu benar? kamu tau dari mana?"
Hasilnya? Kamu bisa mendapat validasi instan, 24/7, dalam bahasa yang terdengar cerdas dan penuh empati. Dan karena AI terdengar artikulatif, validasinya terasa lebih meyakinkan dibanding teman yang cuma bilang "sabar ya."
Yang paling rentan justru yang paling butuh bantuan nyata: orang yang tidak mampu bayar terapi profesional, tidak punya lingkaran pertemanan yang sehat, tidak punya komunitas yang memberi ruang untuk jujur soal kesulitan hidup. Buat mereka, AI jadi satu-satunya pendengar. Dan pendengar ini tidak pernah bilang tidak.
Lalu Bagaimana?
Kalau kamu merasa ini menggambarkan dirimu, atau seseorang yang kamu sayangi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
Ubah cara kamu pakai AI. Alih-alih hanya curhat, coba minta AI untuk:
- "Tanya balik dan challenge pemikiranku."
- "Apa yang mungkin salah dari sudut pandangku?"
- "Coba jadi devil's advocate."

AI punya kemampuan untuk melakukan itu juga, tapi kamu perlu meminta dan mengarahkan (walaupun sayangnya, kebanyakan orang yang kalut dan dalam masalah, tidak akan bertanya dan mengarahkan AI demikian, karena mereka butuh kenyamanan dan persetujuan/validasi dari AI).
Perhatikan kapan kamu menghindari manusia. Kalau kamu lebih memilih berbicara dengan AI karena orang lain tidak sepemikiran denganmu, maka itu red flag. Ketidaksetujuan dan konflik memang membuat tidak nyaman, tapi justru di situ kamu bisa menguji pemikiranmu.

Cari satu orang yang selalu jujur padamu. Tidak harus terapis. Bisa mentor, teman lama, atau komunitas support group. Cari orang yang bisa bilang "aku sayang kamu, tapi menurutku kamu keliru soal ini." AI tidak bisa melakukan itu. Ia tidak menyayangimu. Persetujuan dari AI tidak bernilai apapun karena ia akan setuju pada siapa pun. Kalau kamu mengarahkan AI untuk setuju denganmu, maka dia akan setuju denganmu.
Untuk orang tua: Kalau anakmu lebih sering cerita ke AI daripada ke kamu, masalahnya bukan di AI atau di anakmu. Masalahnya mereka tidak merasa aman membawa perasaan itu ke kamu. Coba mulai mendengarkan jika anakmu bercerita, dan tahan dorongan untuk langsung menasihati atau meremehkan.
Kesimpulan
AI hanya sebuah alat. AI hanya salah satu hasil dari perkembangan teknologi, sama seperti internet, dan social media.
Pertanyaan yang perlu kamu jawab bukan "apakah AI baik atau buruk." Pertanyaannya: kamu pakai AI ini untuk apa? apakah kamu memakainya dengan benar?
AI akan melakukan apapun yang kamu perintahkan. Jadi, semua yang dia katakan, hanya mengikuti perintahmu.